Fungsi Baru Google Maps Bisa di Gunakan untuk Hindari Jalur Ganjil-Genap

Fungsi Baru Google Maps Bisa di Gunakan untuk Hindari Jalur Ganjil-Genap

DKI Jakarta memberlakukan aturan pembatasan plat nomor mobil ganjil-genap untuk beberapa ruas jalan utama di jam sibuk pagi dan sore hari.

Mobil berplat nomor dengan akhiran angka ganjil hanya dibolehkan melintas di tanggal ganjil, sedangkan mobil berpelat nomor dengan akhiran angka genap hanya dibolehkan melintas di tanggal genap.

Pengemudi mobil yang belum familiar dengan aturan ini berisiko ditilang apabila melanggar. Menyadari adanya kebutuhan untuk menghindari ruas jalan tempat pemberlakuan aturan ganjil-genap, Google membenamkan fitur baru di aplikasi navigasi Maps untuk mempermudah hal tersebut.

Google Maps versi terbaru (versi 9.73, dirilis 16 Maret 2018) di toko aplikasi Android Google Play Store kini sudah mampu mengindentifikasi ruas jalan ganjil-genap di DKI Jakarta.

Apabila pengguna meminta petunjuk arah navigasi mobil ke suatu lokasi yang biasanya dituju lewat jalur ganjil-genap, Google Maps akan otomatis menyajikan jalur alternatif yang menghindari ruas jalan tempat aturan tersebut berlaku.

Jalur alternatif tersebut hanya akan muncul apabila pengguna meminta directions di waktu pemberlakuan aturan ganjil-genap, yakni antara pukul 07.00 hingga 10.00 untuk pagi hari, dan antara pukul 16.00 hingga 20.00 untuk sore dan malam hari. Di luar dua periode waktu itu, rute navigasi akan disajikan seperti biasa tanpa menghindari jalur ganjil-genap.

“Di tampilan peta akan disajikan informasi perkiraan waktu ke destinasi, berikut label bahwa rute tersebut berlaku untuk kendaraan berplat ganjil atau genap,” ujar Product Marketing Manager Google Indonesia Sasha Sunu ketika berbicara dalam acara Google Maps Update di Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Fitur ganjil-genap akan muncul dalam bentuk banner di aplikasi Google Maps versi terbaru. Pengguna kemudian bisa memasukkan akhiran nomor plat mobil, apakah ganjil atau genap. Google Maps kemudian akan melakukan penyesuaian rute secara otomatis untuk menghindari jalur ganjil-genap, sesuai dengan waktu, tanggal hari itu, dan nomor plat mobil pengguna.

Pengguna juga bisa mengubah plat nomor di kemudian waktu, dari ganjil menjadi genap atau sebaliknya. “Memang, rutenya mungkin terlihat lebih panjang karena menghindari jalur ganjil-genap, tapi menjamin bahwa kita akan bebas tilang,” imbuh Sasha.

Selain aturan ganjil-genap, lewat update yang sama, Google Maps kini juga sanggup mengenali apabila car free day sedang diberlakukan di ruas jalan tertentu di sebuah kota dan memberikan rute alternatif pada pengguna. Fitur pendeteksian car free day sudah bisa digunakan di 30 kota di Indonesia yang memberlakukan hari bebas mobil di tanggal dan jam tertentu itu.

Solusi Bagi Seseorang yang Selalu Sakit Setelah Naik Pesawat

Solusi Bagi Seseorang yang Selalu Sakit Setelah Naik Pesawat

Beberapa orang yang menempuh perjalanan udara dengan pesawat sering mengeluh sakit. Salah satu alasannya adalah terpapar kuman saat di pesawat.

Sebuah penelitian baru-baru ini juga membahas tentang kemungkinan terpapar kuman atau virus saat di pesawat. Untuk itu, para peneliti menyarankan duduk di dekat jendela jika ingin menghindarinya.

"(Untuk orang yang tidak ingin sakit) duduk di kursi dekat jendela itu dan jangan pindah," ungkap Vicki Stover Hertzberg, peneliti utama penelitian ini dikutip dari Associated Press, Selasa (20/03/2018).

Temuan tersebut didapatkan setelah para peneliti menguji permukaan kabin dan udara pesawat yang terbang di sekitar Amerika Serikat. Selain itu, mereka juga mengamati bagaimana penumpang bersentuhan satu sama lain.

Selanjutnya, para peneliti melakukan beberapa permodelan matematika dan simulasi komputer untuk menentukan kemungkinan seseorang tertular virus. Dalam simulasi ini, orang yang sedang sakit berada di baris ke-14 sebuah pesawat lorong tunggal.

Hasilnya, kursi di dekat jendela pesawat adalah yang paling aman dari virus dan kuman.

Para peneliti juga menyimpulkan bahwa rata-rata hanya satu orang di dalam penerbangan biasa (150 orang penumpang) yang akan terinfeksi.

Meski begitu, penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini memiliki kekurangan. Salah satunya adalah dalam 10 penerbangan hanya ada 1 orang saja yang terkena batuk.

Hertzberg menyebut hal ini karena ketidakberuntungan para peneliti.

Walau tidak sempurna, penelitian ini mendapatkan apresiasi dari beberapa peneliti lain.

"Ini adalah pertama kalinya saya melihat (simulasi penyebaran virus) dilakukan untuk pesawat," ujar Seema Lakdawala, seorang ahli biologi di University of Pittsburgh.

Lakdawala selama ini telah mempelajari bagaimana virus flu menyebar. Ia menyebut, penelitian terdahulu hanya mengamati penyebaran virus flu di rumah dan laboratorium saja.

Hal tersebut membuatnya tertarik tentang temuan ini, terutama bagaimana orang yang berpindah di kabin melakukan kontak satu sama lain.

Pendapat lain juga diungkapkan oleh Edward Pizzarello, seorang investor di sebuah firma permodalan di Washington. Pizzarello menyebut, banyak penumpang yang sering "terbang" akan tertarik pada hasil penelitian ini.

"Itu benar-benar sebuah ketakutan yang sering saya dengar. Mereka percaya bahwa akan sakit stelah melakukan penerbangan atau karena berada di pesawat terbang," ujarnya.

Selain itu, menurutnya, banyak orang memilih duduk di dekat lorong agar bisa bergerak dibanding harus duduk dekat jendela.