Perlunya Akurasi Membaca Pasangan Jika Ingin Asmara Abadi

Perlunya Akurasi Membaca Pasangan Jika Ingin Asmara Abadi

Kelanggengan hubungan membutuhkan kepekaan akan perasaan pasangan. Sayangnya, banyak orang tidak peka pada perasaan pasangan.

Itu terungkap lewat penelitian Dr. Chrystyna Kouros dari Southern Methodist University (SMU) yang terbit di jurnal Family Process beberapa waktu lalu.

"Yang sering terjadi adalah tidak peka terhadap perubahan emosi pasangannya, khususnya saat pasangan sedang bersedih, perubahannya tidak kentara," kata Kouros.

Kepada Psychcentral, Kamis (8/3/2018), Kouros mengatakan bahwa kemampuan untuk menangkap sinyal kesedihan bisa mencegah perasaan negatif pasangan.

Kegagalan untuk menangkap sinyal itu akan mempengaruhi kualitas hubungan dan boleh jadi memicu berakhirnya hubungan.

Kouros mengajak pasangan untuk mengembangkan empati dan mampu membaca perasaan pasangan dengan akurat.

"Dengan akurasi empati, Anda menangkap petunjuk dari pasangan untuk mengetahui suasana hati mereka," kata Kouros.

Pendapat Kouros didasarkan pada hasil penelitian yang melibatkan 51 pasangan. Kouros dan tim meminta mereka menulis suasana hati diri sendiri dan pasangannya.

Dari riset ini, psikolog dari Universitas Wisconsin-Madison, Dr. Lauren M. Papp,mengajak setiap orang untuk memperhatikan pasangannya.

"Saya menyarankan agar pasangan menaruh sedikit usaha untuk memperhatikan pasangan mereka dan lebih berhati-hati dan pada saat Anda bersama pasangan Anda," katanya.

Hilangkan anggapan bahwa pasangan kita bisa membaca pikiran kita, dan mengharapkan memahami apa yang kita inginkan.

"Jika ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan, maka komunikasikan itu. Ini komunikasi dua arah, bukan hanya tanggung jawab pasanganmu," kata Papp.

Penyebab Penggunaan Antibiotik Dunia Meroket

Penyebab Penggunaan Antibiotik Dunia Meroket

Sebuah studi yang baru dipublikasikan dalam jurnal PNAS mengungkapkan bahwa dari 2010 ke 2015, penggunaan antibiotik di seluruh dunia naik 39 persen.

Hasil tersebut ditemukan setelah para peneliti mempelajari konsumsi antibiotik oleh manusia di 76 negara selama beberapa tahun .

Untuk setiap 1.000 orang, penggunaan antibiotik naik dari 11,3 dosis per hari pada 2000 menjadi 15,7 dosis per hari pada 2015.

Secara khusus, para peneliti menyoroti penggunaan penicilin, jenis antibiotik yang paling umum, karena meningkat 36 persen.

Kenaikan penggunaan antibiotik ini dikhawatirkan bisa menimbulkan resistensi. Pasalnya menurut perkiraan pakar ekonomi Jim O’Neill dalam laporan berjudul The Review on Antimicrobial Resistance yang dipublikasikan pada 2014, sebanyak 10 juta kematian akibat resistensi antibiotik bisa terjadi pada 2050 jika konsumsi antibiotik kita tidak berubah.

Namun, para peneliti yang bekerja dalam studi baru ini menilai bahwa kenaikan penggunaan antibiotik yang mereka temukan tidak sepenuhnya buruk.

Sebab, kenaikan yang paling dramatis terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yakni 114 persen; sedangkan penggunaan antibiotik di negara-negara berpenghasilan tinggi menurun.

Selama ini, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah memiliki tingkat penggunaan antibiotik yang rendah karena kurangnya akses terhadap antibiotik.

Eili Klein, peneliti dari Center for Disease Dynamics, Economics & Policy (CDDEP) yang menulis studi ini, mengatakan, (penggunaan antibiotik) adalah usaha keseimbangan yang sangat sulit. Kenaikan ini menunjukkan bahwa ada lebih banyak orang yang mampu mengakses obat-obatan untuk menyelamatkan nyawa.

“Ini bukan hal buruk, tetapi kebanyakan infeksi ini sebetulnya dapat dicegah. Artinya, penyelesaian dari masalah ini tidak hanya sekadar mengurangi konsumsi antibiotik,” ujarnya, seperti dikutip Time, Senin (26/2/2018).